Jika kita bertanya kepada kebanyakan orang, “Apa yang menjadi ciri khas Kota Jogja?”, mungkin rata-rata akan menjawab ‘Tugu Jogja’. Memang benar, layaknya Menara Eiffel di Paris dan Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, tugu ini pun menjadi ikon tersendiri bagi Kota Jogja. Tugu ini terletak di tengah perempatan yang menghubungkan jalan utama di Jogja, yakni Jalan P. Mangkubumi di sisi selatan, Jalan A.M. Sangaji di sisi utara, Jalan Jenderal Sudirman di sebelah timur, dan Jalan P. Diponegoro di sebelah barat.
Letaknya yang strategis membuat tugu ini menjadi patokan bagi wisatawan luar jogja untuk menentukan arah tujuan wisatanya. Ke arah utara menuju Gunung Merapi, ke arah selatan menuju pantai-pantai indah selatan, ke barat menuju panorama indah gunung di Kulon Progo, atau ke arah timur menuju kompleks wisata herritage Candi Prambanan dan Kalasan.
Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Tugu Jogja pertama kali dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta. Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri.
Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig. Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.











