Jika kita bertanya kepada kebanyakan orang, “Apa yang menjadi ciri khas Kota Jogja?”, mungkin rata-rata akan menjawab ‘Tugu Jogja’. Memang benar, layaknya Menara Eiffel di Paris dan Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, tugu ini pun menjadi ikon tersendiri bagi Kota Jogja. Tugu ini terletak di tengah perempatan yang menghubungkan jalan utama di Jogja, yakni Jalan P. Mangkubumi di sisi selatan, Jalan A.M. Sangaji di sisi utara, Jalan Jenderal Sudirman di sebelah timur, dan Jalan P. Diponegoro di sebelah barat.
Letaknya yang strategis membuat tugu ini menjadi patokan bagi wisatawan luar jogja untuk menentukan arah tujuan wisatanya. Ke arah utara menuju Gunung Merapi, ke arah selatan menuju pantai-pantai indah selatan, ke barat menuju panorama indah gunung di Kulon Progo, atau ke arah timur menuju kompleks wisata herritage Candi Prambanan dan Kalasan.
Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Tugu Jogja pertama kali dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta. Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri.
Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig. Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.
Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867 atau 4 Sapar Tahun EHE 1284 H atau 1796 Tahun Jawa sekitar pukul 05.00 pagi. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.
Keadaan benar-benar berubah pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.
Terpilihnya Tugu Jogja sebagai ikon Kota Jogja bukannya tanpa sebab. Tugu ini menyimpan berbagai macam klenik yang dipercaya kebanyakan orang Jawa khususnya Jogja membawa pengaruh terhadap Kota Jogja. Dari segi letaknya, tugu ini tepat terletak satu sumbu dengan Kraton Jogja. Menjadi pintu gerbang utama menuju kraton. Jika dipandang dari segi arsitektur perkotaan, pola penataan semacam ini memang biasa dipakai oleh kerajaan-kerajaan masa lalu.
Pusat kerajaan diawali dengan sebuah pintu gerbang, kemudian dihubungkan dengan satu jalan panjang menuju pusat kraton. Sebelum masuk ke pusat kraton, di sepanjang jalan utama terdapat pasar dan tepat di depan kraton terdapat alun-alun. Sedangkan disisi alun-alun terdapat masjid besar. Jika kita cermati, tugu ini terletak pada satu poros antara Laut Selatan, Krapyak, Bangunan Kraton, Tugu, dan Gunung Merapi. Bahkan Sultan bisa memandang Gunung Merapi jika duduk di singgasana Siti Hinggil.
Pinasthika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar